MANGGARAI TIMUR — Kondisi warga Kampung Golo, Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih memprihatinkan setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026).

Sebanyak 459 jiwa hingga Rabu (19/8/2026) masih mengungsi. Ironisnya, sebagian warga terpaksa tidur di area kuburan karena dianggap lebih aman dari ancaman reruntuhan bangunan jika terjadi gempa susulan.

Data warga setempat mencatat, 6 rumah hancur total dan 18 rumah lainnya mengalami kerusakan.

"Total hancur 6 rumah, rusak 18 rumah. Jumlah pengungsi 459 jiwa. Mereka butuh beras, tenda dan susu bayi," kata Dionisius Parera, warga setempat, Rabu.

Sekitar 300 warga disebut memilih bertahan dan tidur di area kuburan. Kondisi mereka pun serba terbatas karena belum mendapat perlindungan yang memadai.

Sergis (25), warga Kampung Golo, mengatakan rasa takut masih dirasakan warga, terutama ketika malam hari.

"Mau bagaimana lagi. Gempa ini tiap hari bikin kami takut dan trauma, apalagi malam hari," ujarnya.

Di lokasi pengungsian terdapat bayi berusia tiga bulan bersama ibunya serta puluhan warga lanjut usia yang dalam kondisi sakit-sakitan.

Warga bukan hanya membutuhkan makanan. Mereka juga berharap adanya bantuan tenda dan penerangan untuk digunakan pada malam hari.

"Selain beras, mie instan, telur, kami juga butuh lampu charger sinar matahari untuk penerangan malam. Khawatir hujan dan gelap. Kasihan juga ada balita dan banyak lansia di sini," katanya.

Meski diliputi ketakutan, warga mengaku tidak punya banyak pilihan selain tetap bertahan di area tersebut.

"Takut iya, tapi mau bagaimana lagi. Pasrah dan tunggu belas kasihan pemerintah saja sekarang," ucap Sergis.