Tojo Una-UnaSebanyak 76 siswa SD Kelas Jauh Uebone Hulu di Dusun Tibe’i dan Dusun Uesora, Kecamatan Ulubongka, Kabupaten Tojo Una-Una, hingga kini masih belajar di ruang kelas sederhana dengan lantai tanah. Kondisi tersebut telah berlangsung selama enam tahun sejak sekolah itu berdiri pada 2020.

Kondisi memprihatinkan itu mendorong Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una menggerakkan kolaborasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk memenuhi kebutuhan dasar pendidikan bagi siswa di wilayah pedalaman.

Bupati Tojo Una-Una, Ilham Lawidu, menginstruksikan seluruh OPD agar mengambil peran sesuai tugas dan kewenangan masing-masing. Dengan demikian, persoalan fasilitas sekolah di wilayah terpencil tidak hanya dibebankan kepada sektor pendidikan.

Langkah awal dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tojo Una-Una dengan menyalurkan bantuan berupa satu lembar terpal dan 10 matras. Bantuan tersebut diharapkan dapat membuat siswa tidak lagi belajar langsung di atas lantai tanah.

Staf Ahli DPRD Tojo Una-Una, Abdan Lasawedi, mengatakan keterlibatan lintas OPD merupakan tindak lanjut dari arahan bupati untuk memastikan anak-anak di wilayah terpencil tetap memperoleh layanan pendidikan yang layak.

“Perhatian terhadap sekolah di pedalaman harus menjadi tanggung jawab bersama. Setiap OPD diharapkan dapat berkontribusi sesuai kewenangannya sehingga kebutuhan sekolah bisa dipenuhi secara bertahap,” ujarnya saat penyerahan bantuan di Sekretariat Partai Golkar, Senin (3/8/2026).

Dukungan juga diberikan Bank Sulteng Cabang Ampana melalui bantuan papan tulis dan perlengkapan alat tulis. Pimpinan Bank Sulteng Cabang Ampana, Fikri Adam, mengaku prihatin melihat semangat belajar para siswa yang tetap tinggi meski fasilitas pendidikan masih terbatas.

“Anak-anak memiliki semangat belajar yang luar biasa. Semoga bantuan ini bisa mendukung proses belajar mereka,” katanya.

Tokoh masyarakat Kecamatan Ulubongka, Umar K. Ato, mengatakan sejak SD Kelas Jauh Uebone Hulu dibuka pada 2020, para siswa masih belajar di ruang kelas berlantai tanah. Menurutnya, selain pembenahan sarana dan prasarana, sekolah juga membutuhkan tambahan tenaga guru.

“Semangat anak-anak tidak pernah surut. Yang mereka butuhkan sekarang adalah ruang belajar yang lebih layak dan tenaga pendidik yang memadai,” ujarnya.

Pemerhati pendidikan sekaligus warga setempat, Andres Palibio, menilai perhatian pemerintah terhadap masyarakat pedalaman juga perlu mencakup pelayanan administrasi kependudukan. Sebab, masih terdapat warga yang belum memiliki dokumen kependudukan resmi.

Sementara itu, Bendahara SD Kelas Jauh Uebone Hulu, Leni, berharap sekolah tersebut segera memperoleh akses internet berbasis Starlink serta tambahan tenaga pendidik. Menurutnya, dukungan tersebut diperlukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di wilayah terpencil.

Kondisi SD Kelas Jauh Uebone Hulu menjadi gambaran masih adanya kesenjangan layanan pendidikan di wilayah pedalaman Tojo Una-Una. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan menjadi langkah awal untuk memastikan anak-anak di pelosok memperoleh hak pendidikan yang layak dan setara.